Trenggalek,kanaltujuh.com
Kisah Naro anak usia 9 tahun yang berasal dari Sumatera Barat yang terdampar di Sekolah Rakyat Kota Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Bagaimana kisahnya berikut ulasannya.
Salah satu petugas Dinas Sosial Ali Ludin menceritakan awal kisah Naro hingga berlabuh di Trenggalek.
Awalnya kata dia, Naro adalah seorang anak yang sering bermain di lahan perkebunan di tengah hutan di Sumatera Barat. Secara kebetulan salah satu warga Desa Wonocoyo Kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek menjadi pekerja di lahan perkebunan tersebut.
“Orang Trenggalek ini saya tidak tahu namanya, sering melihat Naro bermain di hutan dan merasa kasihan melihat Naro, anak kecil kok bermain di hutan. Nah kemudian sama orang Trenggalek ini, Naro dibawa ke Trenggalek untuk diasuh,” kata Ali melalui sambungan telepon, Minggu (29/03/2026).
Selama hidup bersama dalam satu keluarga di desa Wonocoyo Kecamatan Pogalan, Naro jika marah maka dia langsung pergi dari rumah dan kemudian ditemukan dan diasuh oleh Komar warga Desa Wonocoyo Kecamatan Pogalan.
Selama dalam asuhan Komar, Naro kembali marah dan pergi dari rumah dan sering tidur di emperan rumah Kepala Desa Wonocoyo.
Singkat cerita, Dinas Sosial Kabupaten Trenggalek kemudian mendapat laporan tentang adanya seorang anak yang terlantar di Desa Wonocoyo Kecamatan Pogalan.
Mendapati Laporan tersebut pihaknya langsung terjun ke lapangan untuk melakukan asessmen. Saat bertemu Naro kata Ali, Naro sulit diajak komunikasi karena sering diam dan terkesan linglung.
Naro kemudian ditawari untuk menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Hingga kini Naro tercatat sebagai siswa di Sekolah Rakyat Trenggalek.
Ali menyampaikan berdasarkan data yang ia miliki Naro merupakan anak dari pasangan Tupilanggai dan Marta Sani Juni warga Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat.
Dalam data berupa KK (kartu Keluarga) Naro merupakan anak ke-4 dari lima bersaudara yang pertama yakni Sartoli Sakelak, Mojah Sakelek, Julfiana Sakelek, Naro dan Erianto.
