Kolom  

Teman Jalan

Teman Jalan - Ramli Lahaping
Cerpen 'Teman Jalan' - Ramli Lahaping/Foto: Getty Images

Hisam adalah teman terbaik bagi Fina. Karena kehadiran Hisam, ia tidak merasa sial dan terasing atas keadaan kakinya yang buntung sejak lahir. Selama sempat, Hisam akan sedia menggendongnya atau menumpangkannya dengan sepeda ke mana saja, bahkan jika harus mendaki bukit. Hisam begitu mengasihinya, meski Hisam lebih muda dua tahun darinya.

Atas kehadiran Hisam pula, Fina jadi bisa melewatkan masa kecilnya dengan penuh kegembiraan. Hisam senantiasa hadir mengiringinya dalam pergaulan. Hisam selalu mengupayakan agar ia bisa turut dalam permainan. Kalau ada anak-anak sepermainan mereka yang mengucilkan atau mengolok-olok keadaannya, Hisam akan membela.

Iklan Komindag

Hisam memang memedulikan Fina sebagaimana Hisam memedulikan dirinya sendiri. Hisam seperti tak sanggup bersenang-senang dengan anak-anak yang lain jika Fina malah bersedih. Hisam seolah merasa bertanggung jawab untuk mengayomi dan membahagiakannya. Hisam bersikap demikian, meski tanpa mendapatkan imbalan apa-apa.

Kepedulian Hisam kepada Fina, tidaklah terbentuk begitu saja. Awalnya, semasa kecil, Hisam keki juga menemani Fina yang merepotkan. Namun sepanjang waktu, ibunya, sang orang tua tunggalnya setelah ayahnya wafat, senantiasa menasihati agar ia mau mengawani Fina. Sang ibu mengatakan bahwa mengasihi orang yang berkebutuhan khusus adalah sikap yang mulia.

Pun, sang ibu mendidik Hisam untuk memedulikan orang yang tak punya orang tua dan orang yang miskin, sedang Fina masuk kategori itu. Fina hidup dalam perekonomian yang pas-pasan dengan seorang janda tua tanpa anak, tepat di samping rumahnya. Seorang janda yang dahulu menemukan Fina di teras rumahnya, kemudian memelihara Fina sebagai anak angkatnya, sebagaimana cerita sang ibu.

Perlahan-lahan, Hisam terbiasa menemani dan membantu Fina. Setiap kali ia merasa bosan untuk melakukan kebajikan itu, ia akan kembali teringat pada nasihat dan pengajaran ibunya. Ia pun akan kembali bersyukur atas keadaan tubuhnya yang normal dan penghidupan ibunya sebagai pedagang hasil pertanian yang menjamin keperluannya. Seiring itu, ia pun akan merasa kasihan kepada Fina yang tunadaksa dan hidup dengan seseorang janda miskin penjual sayur di pasar, yang bukan ibu kandungnya.

Kepedulian Hisam kepada Fina, sejalan pula dengan kepedulian ibunya kepada Fina. Sang ibu selalu berinisiatif untuk membantu keperluan Fina, termasuk menanggung kebutuhan sekolah Fina. Atas bantuan sang ibu itulah, Fina akhirnya masuk sekolah dasar setelah umurnya lewat dua tahun, dan jadi sekelas dengan Hisam, sebagaimana keinginan sang ibu untuk mempersatukan mereka.

Kadang-kadang, Hisam mempertanyakan alasan ibunya begitu ingin mendekatkannya dengan Fina. Itu aneh, sebab ibu-ibu yang lain tak menekankan hal yang sama kepada anak-anak mereka. Tetapi akhirnya, ia meyakini saja pengakuan ibunya, bahwa selepas kakak Hisam yang berkelamin perempuan meninggal sesaat setelah dilahirkan, sang ibu jadi sangat ingin memiliki anak perempuan, dan kehadiran Fina seolah mewujudkan keinginan itu.

Namun kini, Hisam tak peduli lagi perihal motif ibunya mengawankannya dengan Fina. Itu karena kepeduliannya kepada Fina, tidak lagi berdasar pada anjuran atau dorongan sang ibu, tetapi berdasar pada kehendak hatinya dan kesadaran pikirannya sendiri. Karena itu, seiring waktu, ia makin enteng untuk memerhatikan Fina. Ia bahkan suka untuk memanjakannya.

Kepedulian Hisam kepada Fina, akhirnya membuatnya cukup protektif. Sejak di bangku sekolah dasar, ia kadang bertengkar dengan temannya yang merendahkan Fina. Ia bahkan pernah nyaris dikeluarkan dari sekolah saat ia duduk di bangku kelas II SMP, karena ia memukul seorang siswa sampai hidungnya berdarah, sebab sang siswa menyahuti Fina “si buntung”.

Atas kepeduliannya pula, kini, di ujung semestar akhir masa SMA-nya dengan Fina, ia dirundung kebimbangan. Itu karena ia ingin beranjak ke kota seberang dan tinggal di rumah pamannya untuk melanjutkan kuliah di kampus favoritnya. Namun ia khawatir kalau-kalau Fina yang memilih untuk tidak berkuliah, akan merasa kehilangan dan membutuhkan kehadirannya.

Tetapi di tengah kebimbangan Hisam itu, sang ibu sudah jauh-jauh hari menuturkan satu rencana untuk jalan pendidikannya. Sang ibu menekankan agar ia tetap tinggal di kampung halaman dan berkuliah di kampus terdekat, di ibu kota kabupaten. Sang ibu merasa kalau itu adalah pilihan terbaik, sebab dengan begitu, ia tetap bisa menemani dan membantu keperluan Fina.

Namun untuk sementara, Hisam tak mau memusingkan soal itu. Ia menggantungkan saja keputusannya sampai masa ketika ia harus mengambil keputusan. Ia hanya ingin terus menemani dan menyenangkan Fina semasih sempat, entah dengan memanen buah-buahan di kebun, menonton pertandingan olahraga di lapangan desa, berjalan-jalan di pasar malam, dan lainnya.

Kelekatan hubungan Hisam dengan Fina, tentu membuat sang ibu bahagia. Setiap kali melihat mereka bersama, ia akan sangat senang. Pasalnya, kebersamaan mereka membuat ia bisa merasakan kenyataan dari impiannya dahulu untuk memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Apalagi, menyaksikan kegembiraan Fina pada setiap kebersamaan mereka, membuatnya merasa kalau dosa masa lalunya terkikis.

Atas alasan itu pula, sejak dahulu, ia menghendaki agar Hisam berteman baik dengan Fina. Ia bahkan mulai mengupayakan itu sejak ia membeli dan pindah di rumah barunya yang tepat di samping rumah ibu angkat Fina. Bagaimanapun, ia ingin mereka menyatu dalam hubungan yang erat, sehingga ia merancang dan menunaikan taktik yang jitu untuk mendekatkan mereka.

Namun rencananya ternyata tidak terhenti pada keadaan yang ia harapkan. Akhirnya, ia tahu juga kalau hubungan Hisam dan Fina ditautkan oleh perasaan yang lebih dari sekadar rasa persahabatan. Kenyataan itu tentu tidak pernah ia taksir sebelumnya, dan tentu tidak akan bisa ia terima. Yang ia inginkan, mereka bersatu hanya dalam ikatan persahabatan.

Hubungan istimewa mereka itu, ia ketahui pagi tadi, saat ia tengah membersihkan rumah. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan buku tulis Hisam yang berada di atas meja, hingga dua lembar kertas keluar dari sela-selanya. Satu lembar kertas berisi ungkapan cinta Fina kepada Hisam, sedangkan satu lembar lainnya berisi ungkapan balasan cinta Hisam kepada Fina, yang belum terserahkan.

Demi memisahkan mereka dari hubungan yang tidak seharusnya, akhirnya, saat ini, setelah ia dan Hisam makan malam, ia pun menekankan keputusan barunya, “Nak, sebaiknya kau mempersiapkan dirimu untuk beranjak kuliah ke kota seberang, dan tinggal di rumah pamanmu.”

Hisam sontak terheran. “Kenapa begitu, Bu? Bukankah sebelumnya Ibu memintaku untuk kuliah di ibu kota kabupaten saja?”

Sang ibu lantas menghela dan mengembuskan napas yang panjang. Tampak berat juga untuk menegaskan keputusannya. “Tidak kenapa-kenapa, Nak,” katanya, dengan nada lembut, lantas tersenyum singkat. “Aku hanya merasa, akan lebih baik jika kau kuliah di kampus terbaik yang engkau inginkan. Itu lebih baik untuk masa depanmu.”

Hisam pun kalut. “Tetapi, bagaimana dengan Fina? Bukankah Ibu ingin kalau aku tetap di sini untuk terus menemaninya?”

Sang ibu kembali melayangkan senyuman, kemudian membalas dengan raut tenang, “Aku rasa, Fina sudah cukup dewasa untuk mengurus keperluannya sendiri. Tak baik jika ia bergantung terus padamu. Ia harus bisa mandiri.” Ia kemudian menjeda dan membaca respons di wajah Hisam. Demi memberikan peyakinan, ia lantas menimpali, “Lagi pula, kalau Fina butuh apa-apa, aku masih ada di sini untuk membantunya, kok.”

Diam-diam, Hisam menimbang saran ibunya. Perlahan-lahan, ia pun merasa kalau berkuliah di kota seberang memang jalan yang baik untuknya. Dan kalau itu benar-benar terjadi, ia bertekad, suatu saat, ketika ia sudah sukses, ia pun akan kembali demi Fina.

“Bagaimana pendapatmu, Nak?” tanya sang ibu, meminta penegasan.

Tanpa keraguan lagi, Hisam pun mengangguk. “Aku setuju kalau Ibu merasa itulah yang terbaik untukku.”

Seketika pula, sang ibu tersenyum lepas. Ia merasa lega sebab rencananya untuk memisahkan Hisam dan Fina, tampak berjalan mulus. Ia berharap, kelak, Hisam akan jatuh hati pada gadis lain di kota seberang, hingga perasaan istimewanya kepada Fina, terhapus dan tak tersisa. Bagaimanapun, Fina adalah anak kandungnya juga, yang dahulu ia buang di teras belakang rumah seorang janda tua tak beranak atas desakan almarhum suaminya, sebab sang suami tak ingin menanggung malu atas keadaan Fina yang lahir tanpa kaki.***


Tulisan Cerpen ini ditulis oleh

Ramli Lahaping

(Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Instagram/@ramlilahaping)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *