kanaltujuh.com
Menanggapi ancaman penculikan maupun teror terhadap Tiyo Ardianto ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Gajah Mada Yogyakarta, politisi PDI-P Adian Napitupulu bilang itu bukan zamannya.
“Teror itu udah gak laku ya, sudah bukan zamannya, itu zaman dulu, kalau kita hidup di zaman sekarang kita harus lebih beradab,” kata Adian saat konferensi pers di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta, pada Rabu (25/02/2026).
Adian melanjutkan bila terjadi perbedaan pendapat di alam demokrasi, hal itu merupakan sesuatu yang biasa. Ia bahkan mengharapkan bila terjadi perbedaan pendapat hendaknya diselesaikan dengan cara duduk bersama serta menyampaikan argumentasi masing-masing dan biarkan rakyat yang menjadi jurinya.
“Dan menurut saya pelaku teror itu sudahlah, apa, hentikan kalau kalian mau Indonesia menjadi semakin lebih beradab, tindakan teror lewat segala bentuknya itu tidak akan membawa kita kepada kemajuan tapi membawa kita kepada kemuduran,” ucapnya.
Sementara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PDI-P, MY Esti Wijayanti menegaskan apa yang telah disampaikan Adian Napitupulu juga menjadi salah satu rekomendasi Rakernas pertama PDI-P.
Dalam Rakernas PDI Perjuangan ditegaskan pentingnya ruang partisipasi generasi muda untuk berpolitik, berekspresi dan juga menyampaikan kebebasan berpendapat.
“Maka apa yang dilakukan oleh Ketua BEM UGM ini bagian dari kebebasan berpendapat yang memang juga dilindungi oleh undang-undang dasar,” jelasnya.
Esti melajutkan siapapun yang melakukan teror tersebut hendaknya untuk segera dihentikan karena hal itu akan menimbulkan perspektif yang tidak baik dan memberikan kesan seolah-olah di republik ini tidak ada lagi kebebasan berbicara.
“Sejauh tetap disampaikan dengan baik, menyampaikan hal-hal kritis dan memberikan masukan-masukan bagaimana membangun republik ini, saya kira itu bagian yang memang harus kita dengarkan,” terangnya.
Adian kemudian menambahkan apabila ada kritikan lewat kata, data dan buku hendaknya dilawan dengan hal yang sama, bukan dengan cara teror dan intimidasi.
“Singkatnya begini kata lawan kata, data lawan data, buku lawan buku, jangan kata, data, buku dilawan dengan teror, intimidasi dan sebagainya, gak boleh, itu membuat kita menjadi bangsa yang secara keberadaban mundur,” pungkasnya.
