Dirjen WHO Himbau Negara G-20 Salurkan Vaksin Ke Negara-Negara Berkembang

Jakarta, Kanaltujuh.com –

World Health Organization (WHO) dan kelompok bantuan lainnya pada Kamis mengimbau para pemimpin 20 ekonomi terbesar dunia, atau yang dikenal dengan Group of 20 (G-20) guna mendanai rencana US$ 23,4 miliar (331 triliun rupiah) untuk membawa vaksin, tes, dan obat-obatan COVID-19 ke negara-negara berkembang dalam 12 bulan ke depan.

Iklan Komindag

Dilansir dari France24 pada Jumat (29/10/2021), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut jika G-20, yang para pemimpinnya bertemu di Roma pada akhir pekan, memiliki kekuatan politik dan keuangan yang diperlukan untuk mengakhiri pandemi dengan mendanai rencana tersebut, yang katanya dapat menyelamatkan lima juta jiwa.

Baca Juga:
Pihak Keamanan Brasil Lakukan Investigasi Pasca Kerusuhan Di Brasilia

Pembaruan terbaru dari Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A), hingga September 2022, diharapkan mencakup penggunaan pil antivirus oral eksperimental yang dibuat oleh Merck & Co untuk mengobati kasus ringan dan sedang.

Jika pil tersebut disetujui oleh pihak berwenang, biayanya hanya $10 (141 ribu rupiah) per sajian, dalam rencana tersebut, yang sejalan dengan draf dokumen yang dilihat oleh media Reuters awal bulan ini.

“Permintaannya sebesar $23,4 miliar (331 triliun rupiah). Itu jumlah uang yang cukup, tetapi jika Anda membandingkan dengan kerusakan yang juga terjadi pada ekonomi global oleh pandemi, itu tidak terlalu banyak, ” jelas Carl Bildt, Utusan Khusus WHO untuk Akselerator ACT, mengatakan kepada wartawan sebelumnya.

Baca Juga:
Pihak Keamanan Brasil Lakukan Investigasi Pasca Kerusuhan Di Brasilia

Di sisi lain mantan perdana menteri Swedia Bildt, mengakui bahwa ACT-A telah berjuang untuk mengamankan pembiayaan sebelumnya.

“Saya berharap dan mendesak agar Group of 20 akan membuat komitmen untuk mengakhiri pandemi,” jelas Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Stoere, yang negaranya memimpin upaya penggalangan dana.

Anggaran yang sama sebesar $7 miliar (99 triliun rupiah) dialokasikan untuk vaksin dan tes diagnostik, dengan tambahan $5,9 miliar (83 miliar rupiah) untuk meningkatkan sistem kesehatan dan $3,5 miliar (49 miliar rupiah) untuk perawatan termasuk antivirus, kortikosteroid, dan oksigen medis.

Baca Juga:
Pihak Keamanan Brasil Lakukan Investigasi Pasca Kerusuhan Di Brasilia

Tedros mencatat pada briefing bahwa kasus global meningkat untuk pertama kalinya dalam dua bulan, didorong oleh Eropa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *