Sepenggal Kisah Vladimir Putin Yang Pernah Jadi Sopir Taksi

Sepenggal Kisah Vladimir Putin Yang Pernah Jadi Sopir Taksi
PM Rusia Vladimir Putin/Foto: Getty Images

Jakarta, Kanaltujuh.com –

Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa dirinya pernah bekerja sebagai sopir taksi saat Uni Soviet runtuh tiga dekade lalu demi bertahan hidup di tengah krisis ekonomi di negara itu.

Iklan

Kisah tersebut diungkap oleh Putin dalam sebuah wawancara program dokumenter televisi Rusia pada Senin (13/12).

Putin bercerita tentang pengalamannya menghadapi krisis ekonomi yang buruk dan inflasi besar-besaran hingga dua digit sampai terpaksa harus mengambil kerja paruh waktu atau sambilan.

Ketika itu, Putin merupakan pegawai badan intelijen Uni Soviet dan sekarang Rusia (KGB).

Baca Juga:
Mantan Presiden Trump Ditembak Saat Kampanye di Pennsylvania, Pelaku Tewas dan Dua Orang Terluka

“Kadang (saya) harus bekerja sambilan dan mengendarai taksi. Sangat tidak nyaman membicarakan hal ini, tetapi sayangnya hal itu terjadi,” ujar Putin, dikutip dari CNN.

Di sisi lain, Putin turut mengungkapkan rasa sesalnya atas keruntuhan Uni Soviet, yang mana dinilainya sebagai bagian dari sejarah Rusia.

“Itu adalah disintegrasi sejarah Rusia di bawah nama Uni Soviet. Dan kami sekarang berubah menjadi negara yang sangat berbeda. Dan apa yang telah dibangun selama lebih dari 1.000 tahun merupakan sebuah kehilangan besar,” ungkap Putin.

Sebanyak 25 juta masyarakat Uni Soviet, kata Putin, di negara bekas pecahan baru dipaksa harus terpisah dari daratan Rusia.

Baca Juga:
Mantan Presiden Trump Ditembak Saat Kampanye di Pennsylvania, Pelaku Tewas dan Dua Orang Terluka

Fenomena ini, menurut Putin, merupakan tragedi kemanusiaan yang amat besar besar.

Bagi Putin, keruntuhan Uni Soviet merupakan bencana geopolitik terbesar abad ke-20.

Dalam kesempatan itu, Putin pun turut menyinggung Ukraina, satu dari total 15 negara pecahan Uni Soviet.

Menurutnya, Ukraina merupakan bagian integral dari sejarah dan budaya Rusia. Pernyataan itu memicu spekulasi alasan Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014 lalu.

Pandangan Putin itu pun ditolak Kiev sebagai versi sejarah bermuatan politik untuk memecah belah Ukraina.

Klaim Putin itu pun muncul ketika negara Barat meyakini Rusia tengah merencanakan plot untuk menyerbu Ukraina lagi di awal tahun depan.

Baca Juga:
Mantan Presiden Trump Ditembak Saat Kampanye di Pennsylvania, Pelaku Tewas dan Dua Orang Terluka

Akan tetapi Kremlin membantah tuduhan itu dengan menegaskan Rusia tak memiliki rencana untuk meluncurkan serangan baru ke Ukraina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *